Kata Pengantar
Puji syukur kami
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,karunia,serta taufik
dan hidayatNya kami dapat menyelesaikan makalah tentang pendekatan empiris dari
mata kuliah pengantar ilmu politik dengan sebaik mungkin meski masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Dan kami mengucapkan terima kasih kepada ibu
shanty kartika dewi selaku dosen mata kuliah pengantar ilmu politik kelas IA
jurusan ilmu pemerintahan fakultas FISIP UNTIRTA yang telah memberikan tugas
kepada kami.
Kami sangat berharap
makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah ilmu serta pengetahuan kita mengenai cara
melakukan penelitian dengan pendekatan empiris. Kami juga menyadari untuk
menuju makalah yang sempurna sangatlah sulit.oleh karena itu, kami berharap
adanya kritik,saran atau usulan demi
perbaikan makalah yang kami buat untuk makalah berikutnya.
Semoga dengan makalah ini
dapat dipahami oleh siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah kami
susun dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya
kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan
tidak sesuai kami mohon kritik, saran atau usulan yang memotivasi demi makalah
berikutnya jauh lebih baik.
Serang,
2 September 2015
Angga
Rosidin
DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR……..……………………………………………………………………1
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….……..2
BAB I PENDAHULUAN…………………………….......………...………..3
1.1
Latar belakang………………………………………………………………….3
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………….…...3
1.3 Maksud dan Tujuan…………………………………………………….……....3
1.4.
Sistematika Penulisan…………………………………………………………..4
BAB II
PEMBAHASAN……………………………………………………...5
1.1 Tiga tokoh empirisme dan latar belakangnya……………………...………......5
1.2 Aspek Ontologi paham empirisme………………………………………….…..6
1.3
Aspek Epistimologi paham empirisme…………………………………………12
1.4 Aspek Aksiologi paham empirisme………………………………...…………..13
1.5
Kritik terhadap paham empirisme……………………………………………....13
BAB III
PENUTUP………………………………………………………...18
Kesimpulan…………………………………………………………18
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………....21
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Sumber
pengetahuan dalam diri manusia itu banyak sekali. Salah satu paham yang
memaparkan tentang sumber pengetahuan adalah paham empirisme. Empirisme adalah
merupakan paham yang mencoba memaparkan dan menjelaskan bahwa, sumber
pengetahuan manusia itu adalah pengalaman. Paham ini dikemukakan oleh beberapa
pakar filsafat diantaranya John Locke, David Home dan George Berkeley. Mereka adalah pakar filsafat yang berasal dari Inggris.
b. Rumusan Masalah
1. Siapa Tokoh
empirisme dan latar belakangnya?
2. Bagaimana Aspek
Ontologi paham empirisme?
3. Bagaimana
Aspek Epistimologi paham empirisme?
4. Bagaimana
Aspek Aksiologi paham empirisme?
5. Bagaimana
Kritik paham-paham lain terhadap paham empirisme?
c. Tujuan
1. Mengetahui Tokoh empirisme dan latar belakangnya
2. Mengetahui Aspek Ontologi paham empirisme
3. Mengetahui Aspek Epistimologi paham empirisme
4. Mengetahui Aspek Aksiologi paham empirisme
5. Mengetahui Kritik paham-paham lain terhadap paham empirisme
d. Sistematika Penulisan
Kata
pengantar
Bab I
terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan juga sistematika
penulisan yang terdapat pada makalah ini.
Bab II
terdiri dari isi yang membahas mengenai permasalahan yang ada pada rumusan
masalah, yaitu mengenai paham empirisme.
Bab III
merupakan bab penutup dimana hanya terdapat kesimpulan dari apa yang dibahas
pada makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
a.
Tiga tokoh Empirisme dan latar belakangnya
John Locke (lahir
29 Agustus 1632 – meninggal 28 Oktober 1704 pada umur 72 tahun) adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filsuf negara liberal. Bersama
dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di era
Pencerahan.
Selain itu, Locke menandai lahirnya era Modern dan juga era pasca-Descartes (post-Cartesian), karena
pendekatan Descartes tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di
dalam pendekatan filsafat waktu itu. Kemudian Locke juga menekankan pentingnya
pendekatan empiris dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan.
Tulisan-tulisan
Locke tidak hanya berhubungan dengan filsafat, tetapi juga tentang pendidikan, ekonomi, teologi, dan medis. Karya-karya Locke yang terpenting adalah "Esai
tentang Pemahaman Manusia" (Essay Concerning Human Understanding),
Tulisan-Tulisan tentang Toleransi" (Letters of Toleration), dan
"Dua Tulisan tentang Pemerintahan" (Two Treatises of Government).
David Hume (lahir
26 April 1711 – meninggal 25 Agustus 1776 pada umur 65 tahun) adalah filsufSkotlandia, ekonom, dan sejarawan. Dia dimasukan sebagai salah satu figur paling penting
dalam filosofi barat dan Pencerahan Skotlandia. Walaupun kebanyakan ketertarikan karya Hume berpusat pada
tulisan filosofi, sebagai sejarawanlah dia mendapat pengakuan dan penghormatan.
Karyanya The History of EnglandKarya Macaulay. merupakan karya dasar dari sejarah Inggris untuk 60 atau
70 tahun sampai
George Berkeley adalah
seorang filsuf Irlandia yang juga menjabat sebagai uskup di Gereja Anglikan. Bersama John Locke dan David Hume, ia tergolong sebagai filsuf empiris Inggris yang terkenal. Ia dilahirkan pada tahun 1685 dan meninggal
pada tahun 1753. Berkeley mengembangkan suatu pandangan tentang pengenalan
visual tentang jarak dan ruang. Selain itu, ia juga mengembangkan sistem
metafisik yang serupa dengan idealisme untuk melawan pandangan skeptisisme.
b.
Aspek Ontologi Paham Empirisme
Empirisme adalah
suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah
pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.[1]
Empirisme Dalam filsafat , Empirisisme adalah teori pengetahuan yang menyatakan pengetahuan yang datang melalui sensori
pengalaman . Empirisme adalah salah satu dari beberapa
pandangan yang mendominasi bersaing dalam studi pengetahuan manusia, yang
dikenal sebagai epistemologi . Empirisme menekankan peran pengalaman dan bukti , terutama persepsi sensorik , dalam pembentukan gagasan, atas
gagasan ide-ide bawaan atau tradisi berbeda dengan, misalnya, rasionalisme yang bergantung pada akal dan dapat menggabungkan
pengetahuan bawaan.
Empirisme
kemudian, dalam filsafat ilmu , menekankan aspek-aspek pengetahuan ilmiah yang terkait
erat dengan bukti, terutama seperti yang ditemukan dalam percobaan. Ini
adalah bagian mendasar dari metode ilmiah bahwa semua hipotesis dan teori harus diuji terhadap pengamatan dari alam ,
bukan hanya beristirahat apriori penalaran , intuisi , atau wahyu . Hence, science is considered to be methodologically
empirical in nature. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dianggap metodologis
empiris di alam.
Ini berasal
dari bahasa Yunani
ἐμπειρία kata, yang diterjemahkan ke experientia Latin, dari mana kita
berasal pengalaman kata. Ini juga berasal dari penggunaan tertentu klasik
Yunani dan Romawi lebih empiris , mengacu pada seorang dokter yang berasal keterampilan
dari pengalaman praktis sebagai lawan instruksi dalam teori.
Kelemahan
dari paham ini adalah :
a) Indera menipu
b) Indera terbatas
c) Objek menipu
d) Objek dan indera menipu
Beberapa
Jenis Empirisme:
1.
Empirio-kritisisme
Disebut juga Machisme.
ebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan
oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian
pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya,
sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia
sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi
(pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali
ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh
tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.
2.
Empirisme Logis
Analisis logis Modern
dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan ilmiah.
Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut :
a) Ada batas-batas bagi
Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan induktif tidak
dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
b) Semua proposisi yang
benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi mengenai data
inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada seketika
c) Pertanyaan-pertanyaan
mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.
3.
Empiris Radikal
Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada
pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap
bukan pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan
melawan kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada
pihak yang belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya
dapa memberikan kepada kita suatu pengetahuan
yang belum pasti (Probable). Mereka mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan
empiris, dapat diterima sebagai pasti jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya
lebih lanjut dan dengan begitu tak ada dasar untukkeraguan. Dalam situasi
semacam iti, kita tidak hanya berkata: Aku merasa yakin (I feel certain),
tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan
empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk
setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.[2]
Pendiri empirisme Inggris salah seorang penganut
empirisme, yang juga Bapak Empirisme mengatakan bahwa pada waktu manusia
dilahirka, keadaan akalanya masih bersih ibarat kertas yang kosong yang belum
bertuliskan apa pun (tabularasa). Pengetahuan
baru muncul ketika indera manusia menimba pengalaman dengan cara melihat dan
mengamati berbagaian kejadian dalam kehidupan. Kertas tersebut mulai
bertuliskan berbagai pengalaman indrawi. Seluruh sisa pengetahuan bisa
diketahui dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang
diperoleh dari pengindraan serta refleksi yang pertama dan sederhana (Juhaya S.
Pradja, 1997:18).
Akal
semacam tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil pengindraan.
Hal ini berarti bahwa semua pengetahuan manusia -betapa pun rumitnya- dapat
dilacak kembali sampai pada pengalaman-pengalaman indrawi yang telah
tersimpanan rapi di dalam akal. Jika terdapat pengalaman yang tidak tergali
oleh daya ingatan akal, itu berarti merupakan kelemahan akal, sehingga hasil
pengindraan yang menjadi pengalaman manusia tidak lagi dapat diaktualisasikan.
Dengan demikian, bukan lagi sebagai ilmu pengetahuan yang faktual.
George Barkeley (1685-1753)
Pada
era modern, muncul pula George Barkeley yang berpandangan bahwa seluruh
gagasan dalam pikiran atau ide dating dari pengalaman dan tidak ada jatah ruang
bagi gagasan yang lepas begitu saja dari pengalaman. Oleh karena itu, idea
tidak bersifat independen. Pengalaman konkret adalah “mutlak” sebagai sumber
pengetahuan utama bagi manusia, karena penalaran bersifat abstrak dan
membutuhan rangsangan dari pengalaman. Berbagai gejala fisikal akan ditangkap
oleh indra dan dikumpulkan dalam daya ingat manusia, sehingga pengalaman indrawi
menjadi akumulasi pengetahuan yang berupa fakta-fakta. Kemudian, upaya
aktualisasinya dibutuhkan akal. Dengan demikian, fungsi akal tidak sekedar
menjelaskan dalam bentuk-bentuk khayali semata-mata, melainkan dalam konteks
yang realistik.
David Hume (1711-1776)
Dia
ikut dalam berbagai pembahasan tersebut dan memengaruhi perkembangan dua
aliran. Aliran yang dipengaruhinya adalah skeptisisme dan empirisme.
Dalam
hal skeptisisme, Hume mencurigai pemikiran filsafat dan di antara
pemikirannya adalah bahwa prinsip kausalitas (sebab akibat) itu
tidak memiliki dasar. Ia juga seorang agnostik, yakni orang yang berpendirian
bahwa adanya Tuhan itu tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat diingkari. Dalam
hal empirisme, suatu pandangan yang mengatakan bahwa segala pengetahuan
itu berasal dari pengalaman. Walaupun mungkin ada suatu dunia di luar kesedaran
manusia, namun hal ini tidak dapat dibuktikan. Ia menolak sketisime, skeptisisme
menurut beberapa filsuf adalah pandangan bahwa akal tidak mampu sampai pada
kesimpulan, atau kalau tidak, akal tidak mampu melampaui hasil-hasil yang
paling sederhana.[3]
c.
Aspek Epistimologi Paham
Empirisme
Metode Empiris dan penelitian empiris, Konsep sentral dalam ilmu pengetahuan dan metode ilmiah adalah bahwa semua bukti harus empiris, atau
berbasis empiris, yaitu, bergantung pada bukti-bukti yang diamati oleh
indera. Hal ini dibedakan dari penggunaan filosofis empirisme oleh
penggunaan kata sifat "empiris" atau adverbia yang
"empiris". Empiris yang digunakan bersama dengan baik alam dan ilmu-ilmu sosial , dan mengacu pada penggunaan kerja hipotesis yang dapat diuji
menggunakan pengamatan atau percobaan. Dalam arti kata, laporan ilmiah untuk tunduk dan berasal
dari pengalaman kami atau observasi.
Dalam
arti kedua "empiris" dalam ilmu dan statistik mungkin identik dengan
"eksperimental". Dalam hal ini, hasil pengamatan empiris adalah
eksperimental. Istilah semi-empiris yang kadang-kadang digunakan untuk
menggambarkan metode teoritis yang menggunakan dasar aksioma , hukum ilmiah didirikan, dan hasil eksperimen sebelumnya
dalam rangka untuk terlibat dalam pembentukan model beralasan dan penyelidikan
teoritis.[4]
d.
Aspek Aksiologi Paham Empirisme
Dalam
hal ini, Nilai kegunaan yang akan kita temukan pada paham ini adalah seberapa
pentingnya pengalamn dalam hidup kita di dunia ini. “The Experience Is The
Best Teacher”, mungkin kata tadi sudah tidak asing bagi kita. Tapi, kata
tersebut terbukti apalagi diperkuat dengan adanya paham ini. Pengalaman
merupakan sumber pengetahuan manusia, yang jelas-jelas mendahului rasio. Tanpa
pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu,
kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman, hanyalah khayalan
belaka.
e.
Kritik Paham Empirisme
Rasionalisme
tidak seperti emperisme yang menerima pengalaman- pengalaman batiniah. Bagi
rasionalisme, hanya pengalaman indera yang benar-benar sebagai sumber
pengetahuan yang faktual, sedangkan yang lainnya tidak berarti apa-apa.
Rasionalisme meragukan semua pandangan empirisme.[5]
Kritik
terhadap empirisme yang diungkapkan oleh Honer dan Hunt (1968) dalam
Suriasumantri (1994) terdiri atas tiga bagian. Pertama, pengalaman yang
merupakan dasar utama empirisme seringkali tidak berhubungan langsung dengan
kenyataan obyektif. Pengalaman ternyata bukan semata-mata sebagai tangkapan
pancaindera saja. Sebab seringkali pengalaman itu muncul yang disertai dengan
penilaian. Dengan kajian yang mendalam dan kritis diperoleh bahwa konsep
pengalaman merupakan pengertian yang tidak tegas untuk dijadikan sebagai dasar
dalam membangun suatu teori pengetahuan yang sistematis. Disamping itu pula,
tidak jarang ditemukan bahwa hubungan berbagai fakta tidak seperti apa yang
diduga sebelumnya.
Kedua,
dalam mendapatkan fakta dan pengalaman pada alam nyata, manusia sangat
bergantung pada persepsi pancaindera. Pegangan empirisme yang demikian
menimbulkan bentuk kelemahan lain. Pancaindera manusia memiliki keterbatasan.
Sehingga dengan keterbatasan pancaindera, persepsi suatu obyek yang ditangkap
dapat saja keliru dan menyesatkan.
Ketiga,
di dalam empirisme pada prinsipnya pengetahuan yang diperoleh bersifat tidak
pasti. Prinsip ini sekalipun merupakan kelemahan, tapi sengaja dikembangkan
dalam empirisme untuk memberikan sifat kritis ketika membangun sebuah
pengetahuan ilmiah. Semua fakta yang diperlukan untuk menjawab keragu-raguan
harus diuji terlebih dahulu. Dewey menyebutkan bahwa hal yang paling buruk dari
metode empiris adalah pengaruhnya terhadap sikap mental manusia. Beberapa
bentuk mental negatif yang dapat ditimbulkan oleh metode empiris antara lain:
sikap kemalasan dan konservatif yang salah. Sikap mental seperti ini
menurutnya, lebih berbahaya daripada sekedar memberi kesimpulan yang salah.
Sebagai contoh dikatakan bahwa apabila ada suatu penarikan kesimpulan yang
dibuat berdasarkan pengalaman masa lalu menyimpang dari kebiasaan, maka
kesimpulan tersebut akan sangat diremehkan. Sebaliknya, apabila ada penegasan
yang berhasil, maka akan sangat dibesar-besarkan.
Terhadap
empirisme Immanuel Kant juga memberi kritiknya bahwa meskipun empirisme
menolak pengetahuan yang berasal dari rasio, tetapi pengalaman dan persepsi
yang merupakan dasar kebenaran dalam empirisme tidak dapat memberi suatu
pengetahuan yang kebenarannya adalah universal dan bernilai penting.
Kritik
lain yang juga diungkapkan oleh Brower dan Heryadi (1986) bahwa tidak
mungkin unsur-unsur khusus menghasilkan suatu kebenaran yang bersifat
universal. Meskipun diakui bahwa munculnya pengetahuan dan legitimasinya
berasal dari pengamatan, tetapi pada kenyataan tidak semua sumber pengetahuan
hanya terdapat dalam pengamatan.
Telaah
terhadap kritik yang ditujukan kepada empirisme tidak dimaksudkan untuk
menimbulkan keraguan tentang peranan empirisme dalam pembentukan pengetahuan
melalui metode ilmiah. Kritik kepada empirisme haruslah dipandang sebagai acuan
dalam mencari solusi alternatif mengatasi kelemahan-kelemahan dalam empirisme.
Penggunaan pancaindera yang memiliki keterbatasan harus dibantu dengan
teknologi yang sempurna untuk menyempurnakan pengamatan. Metode-metode
eksperimen yang dijalankan harus ditetapkan secara benar sehingga bias karena
keterbatasan pengamatan manusia dapat diminimalisasikan.
Pengalaman-pengalaman
yang dibangun sebagai dasar kebenaran harus didukung dengan teori-teori yang
relevan. Bergantung pada pengalaman pribadi saja bisa menimbulkan subyektivitas
yang tinggi. Oleh sebab itu kajian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang sudah
ada sebelumnya harus dilakukan sehingga kebenaran yang ingin didapatkan
memiliki sifat obyektivitas yang tinggi. Pengetahuan tidak semata-mata mulai
dari pengalaman saja, tetapi ia harus menjelaskan dirinya dengan
pengalaman-pengalaman itu.
Dari
sudut pandang yang lain, kritik terhadap empirisme perlu juga dipahami sebagai
kritik terhadap ilmu pengetahuan. Dengan adanya keterbatasan dalam empirisme
sebagai salah satu prosedur dari metode ilmiah, memberi gambaran kepada kita
bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya kebenaran yang
ada. Tetapi sebagai ilmuwan, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa di
luar ilmu pengetahuan masih terdapat kebenaran lain. Dengan demikian, kebenaran
ilmu pengetahuan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi didalam membangun
keharmonisan dan keseimbangan hidup, kebenaran ilmu pengetahuan perlu
berdampingan dengan kebenaran-kebenaran dari pengetahuan lain, seperti seni,
etika dan agama. Pengetahuan-pengetahuan lain di luar ilmu pengetahuan ilmiah
perlu dipahami pula dengan baik oleh para ilmuwan agar dapat menciptakan atau
menghasilkan nuansa yang lebih dinamis pada pengetahuan ilmiah.[6]
Kritik fenomenologi
atas empirisme logis adalah: Bagaimana mungkin manusia dapat menyelidiki fakta
bahasa sedangkan realitas dunia—atau sebagai realitas bahasa—adalah bagian
dirinya sendiri yang manunggal itu? Kalau jawaban itu digunakan untuk menjawab
pertanyaan esensial tentu tidak mungkin. Karena subjek dalam pertanyaan
esensial harus melepaskan diri dari objek. Pertanyaan ini bisa dijawab manakala
manusia menyetujui atas posisi kemanunggalannya antara subjek dan objek.
Jadi
subjek manusia yang merengkuh objek dalam tindak epistemologis adalah tidak
mungkin. Apalagi dengan pendekatan analitika bahasa yang menyelidiki realitas
dunia pada fakta bahasanya. Subjek dan objek—dualisme epistemologi—adalah
sesuatu yang tidak dapat dibedakan, mengingat fenomenologi eksistensial
menisbatkan manusia dan realitas dunia dalam satu lokus.[7]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Empirisme adalah
suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah
pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
Jenis-jenis empirisme :
1.
Empirio-kritisisme
2.
Empirisme Logis
3.
Empiris Radikal
Metode Empiris dan penelitian empiris, Konsep sentral dalam ilmu pengetahuan dan metode ilmiah adalah bahwa semua bukti harus empiris, atau
berbasis empiris, yaitu, bergantung pada bukti-bukti yang diamati oleh
indera.
Tanpa
pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu,
kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman, hanyalah khayalan
belaka.
Kritik-kritik
bagi paham empirisme :
Honer
dan Hunt (1968) dalam Suriasumantri (1994) terdiri atas tiga bagian. Pertama,
pengalaman yang merupakan dasar utama empirisme seringkali tidak berhubungan
langsung dengan kenyataan obyektif.
Kedua,
dalam mendapatkan fakta dan pengalaman pada alam nyata, manusia sangat
bergantung pada persepsi pancaindera.
Ketiga,
di dalam empirisme pada prinsipnya pengetahuan yang diperoleh bersifat tidak
pasti. Prinsip ini sekalipun merupakan kelemahan, tapi sengaja dikembangkan
dalam empirisme untuk memberikan sifat kritis ketika membangun sebuah
pengetahuan ilmiah.
Immanuel Kant juga
memberi kritiknya bahwa meskipun empirisme menolak pengetahuan yang berasal
dari rasio, tetapi pengalaman dan persepsi yang merupakan dasar kebenaran dalam
empirisme tidak dapat memberi suatu pengetahuan yang kebenarannya adalah
universal dan bernilai penting.
Brower dan Heryadi (1986) bahwa tidak mungkin unsur-unsur khusus menghasilkan
suatu kebenaran yang bersifat universal.
Beni
Ahmad Saebani dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu, mengatakan
bahwa Rasionalisme tidak seperti emperisme yang menerima pengalaman-
pengalaman batiniah. Bagi rasionalisme, hanya pengalaman indera yang
benar-benar sebagai sumber pengetahuan yang faktual, sedangkan yang lainnya
tidak berarti apa-apa. Rasionalisme meragukan semua pandangan empirisme.
Kritik fenomenologi
atas empirisme logis adalah: Bagaimana mungkin manusia dapat menyelidiki fakta
bahasa sedangkan realitas dunia—atau sebagai realitas bahasa—adalah bagian
dirinya sendiri yang manunggal itu? Kalau jawaban itu digunakan untuk menjawab
pertanyaan esensial tentu tidak mungkin. Karena subjek dalam pertanyaan
esensial harus melepaskan diri dari objek. Pertanyaan ini bisa dijawab manakala
manusia menyetujui atas posisi kemanunggalannya antara subjek dan objek.
DAFTAR PUSTAKA
http//andre.com/empirisme.
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.
wikipedia.org/wiki/Empiricism&ei=VCqbTbCdIojJrAfOpLzlBg&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum
=2&ved=0CCMQ7gEwAQ&prev=/search%3Fq%3Dempirisme%26hl%3Did%26client%3
Dfirefox-a%26hs%3DjzS%26rls%3Dorg.mozilla:enUS:official%26channel%3Ds%26prmd%3
Divnsb
http://
Prasetyo.com/post/detail/14925/empirisme, tanggal 14 Maret 2011, pukul. 13.00
WIB.
http:// Indera.com
/empirisme
1xBet - The UK's first online sports betting - Riders Casino
BalasHapus1xbet titanium engagement rings is a licensed 1xbet app online sportsbook that was seiko titanium watch established back in 1998, but now titanium bracelet accepts Canadian players with babyliss pro nano titanium a huge variety of betting options.
blog here wholesale sex doll,sex dolls,dildo,cheap sex toys,realistic dildo,sex chair,dildos,realistic dildo,sex chair official website
BalasHapusx183n9faqsa552 dildos,silicone sex doll,sex chair,cheap sex toys,penis pumps,dog dildo,sex chair,horse dildo,Panty Vibrators l169m3ynaqr189
BalasHapus